Olahraga Indonesia, Hanya Menjadi Ekor?



Sebagai contoh olahraga sepakbola di Indonesia, kita sempat menjadi macam asia dalam hal olahraga sepakbola. Tapi sekarang, kita dengan Malaysia atau bahkan dengan Vietnam yang merupakan Negara kecil kita sudah mulai kalah. Bahkan bukan hanya di sepakbola, secara keseluruhan di lingkup asia melalui ajang Asian Games Indonesia terlempar dari sepuluh besar asia dan hanya menduduki posisi 15. Mendengar berita olahraga seperti ini seharusnya kita malu, hal tersebut menunjukkan bahwa olahraga Indonesia menjadi sebuah ironi di sebuah bangsa yang serba berlimpah seperti Indonesia ini.
Jika kita melihat lebih dalam mengenai olahraga Indonesia yang hanya menjadi pengekor, ada beberapa hal yang perlu segera menjadi perhatian serius dari pemerintah.
- Perhatikan sarana dan prasarana olahraga. Hal yang paling menentukan dalam perkembangan olahraga adalah adanya sarana dan prasarana pendukung yang memadai. Dengan adanya sarana dan prasarana tersebut atlet akan mempunyai kesempatan yang lebih luas untuk mengembangkan kemampuannya. Kebijakan yang keliru dari pemerintah pusat maupun daerah saat ini lebih mementingkan pembangunan mall dan pusat perbelanjaan daripada membangun stadion ataupun pusat-pusat training olahraga. Sebenarnya tidak susah untuk mewujudkan hal tersebut, asalkan ada niat dan kemauan yang kuat dari pemerintah selaku pembuat kebijakan.
- Menerapkan pendidikan olahraga Berkesinambungan. Kita bisa meniru pendidikan olahraga yang diterapkan terhadap atlitnya. Mereka tidak asal comot, pendidikan dan pelatihan mereka sudah terstruktur. Jadi persiapannya sudah dilakukan sejak usia dini dengan metode pelatihan yang jelas. Tidak seperti Indonesia yang melakukan pemusatan pelatihan sebulan atau dua bulan menjelang pertandingan.
- Menemukan Blue print Olahraga Indonesia. Yang satu ini kadang terlupakan, kita terlalu mengejar gengsi untuk berprestasi dalam salah satu cabang olahraga yang bukan berasal dari kepribadian bangsa. Dan bahkan olahraga yang seharusnya kita mampu berprestasi lebih baik malah kita lupakan.
No comments:
Post a Comment